Cara Pengolahan Hasil Tani Rempah Bernilai Tinggi

 









Hari ini banyak petani menjual hasil taninya berupa produk segar dari lahan. Tidak ada yang salah. Namun jika kita ingin menaikkan nilai hasil tani, bisa dilakukan beberapa langkah berikut.

Kenapa petani menjual hasil rempah segar, alasan utamanya adalah biar segera mendapatkan uang. Berikutnya biar adalah karena jika terlalu lama disimpan, kualitas produk hasil tani akan menurun.

Karena ketergesaan tersebut, maka hasil tani tidak mendapatkan harga maksimal, karena petani dalam kondisi terdesak kebutuhan. Dengan adanya ketergesaan tersebut, tengkulak dan pembeli dapat mendikte harga pasaran.

Bagaimana agar keluar dari lingkaran masalah ini. Salah satunya adalah memberikan nilai tambah pada hasil bumi tersebut.

Setidaknya ada dua teknik pengolahan yang dapat dilakukan dengan modal yang tidak begitu besar. Pertama adalah memproduksi rempah kering dan kedua memproduksi minyak atsiri.


Rempah Kering

Untuk membuat rempah kering tak begitu banyak modal yang dibutuhkan. Bisa dengan teknik yang sangat sederhana, hasil rempah dicuci bersih, diiris dilanjutkan dengan pengeringa melalui sinar matahari dan jika kandungan air sudah menurun sesuai dengan kebutuhan, baru dilakukan penyimpanan.

Jika ingin teknik lebih canggih yang tidak tergantung matahari, maka bisa melakukan investasi mesin pengering yang bisa digunakan saat musim penghujan.

Proses pengeringan bisa dilanjutkan dengan proses pembuatan pembubukan. Ada banyak konsumen yang menginginkan rempah dalam bentuk bubuk.

Kalau dilihat dari permintaan ekspor, maka kebanyakan proses ekspor dilakukan dalam bentuk kering atau simplisia. Maka proses pengeringan ini bisa jadi membuat produk yang awalnya hanya untuk kebutuhan lokal, naik kelas untuk dapat diekspor.


Minyak Atsiri

Selain pengeringan, proses lainnya bisa dilakukan dengan produksi minyak atsiri. Produksi minyak atsiri bisa dilakukan dengan caran yang sederhana, dan kemudian bertahap mengembangkan mesin produksi atsiri lebih besar volumenya sesuai dengan pasar.

Minyak atsiri dari data statistik, sangat dibutuhkan oleh pasar internasional, dan peluangnya masih sangat besar.

Pengolahan atsiri ini masih belum banyak dilirik secara serius, padahal potensinya sangat besar.

Demikian, setidaknya dua solusi memberikan nilai tambah pada hasil rempah dari sisi pengolahan. Peluang bisnis rempah melalui rempah kering dan atsiri ini sangat menjajikan kedepan. Tinggal menunggu Anda terjun didalamnya.


Semriwing
Sentra Rempah

Cara Membuat Nilai Tambah Hasil Bumi Rempah

 

Negeri ini diberikan anugerah yang luar biasa, ada didaerah katulistiwa, kepulauan dengan dua musim yang sangat potensial.

Hasil bumipun juga luar biasa, mulai dari sayur mayur sampai rempah-rempah yang menghipnotis dunia untuk menjajah negeri ini.

Nah, bagaimana caranya agar hasil bumi, khususnya rempah ini memberikan hasil maksimal bagi kesejahteraan petani. Jamak kita ketahui, bahwa sampai hari ini negeri yang subur ini, malah mulai kedatangan produk impor, baik manufaktur sampai buah dan sayur mayur.

Salah satu penyebab kenapa kita impor, salah satunya semakin sedikitnya petani karena petani tidak mendapatkan pendapatan yang layak dari hasil taninya karena sistem dan lainnya.

Setidaknya ada dua jalan mensolusi masalah ini, pertama adalah membuat nilai tambah dan kedua adalah memanfaat teknologi digital agar proses distribusi menjadi semakin murah.

Baik, kita bahas lebih rinci.


Value Added

Kita bahas masalah nilai tambah. Bagaimana meningkatkan nilai tambah hasil bumi rempah. Jika selama ini ummnya hasil rempah dikirim ke pasar dalam bentuk segar dan kemudian diolah oleh pabrik. Umumnya hasil tani ini dihargao murah oleh tengkulak yang biasanya menjerat petani, baik melalui sistem hutang dan lainnya.

Nilai tambah ini bisa dilakukan dengan mengolah hasil rempah misalnya dalam bentuk pengeringan sehingga hasil bumi lebih awet. Cara lain melalui produksi minyak atsiri yang kebutuhan saat ini sangat besar dengan harga sangat menggiurkan.


Digital Tekno

Cara kedua adalah menggunakan teknologi digital untuk membantu pemasaran dan proses distribusi. Jika jalur distribusi ini biasanya petani masuk tengkulak, berikutnya masuk pengepul dan dilanjut masuk pasar induk. Dari pasar induk kemudian masuk ke pedagang pengecer dan keliling baru masuk ke konsumen.

Jalurnya begitu panjang. Maka jika menggunakan teknologi digital, panjangnya proses distribusi itu bisa dipangkas, sehingga harga dari tingkat petani bisa meningkat disatu sisi harga di konsumen juga semakin bersain.

Keuntungan itu didapat dari pemangkasan jalur distribusi konvensional yang sangat panjang tersebut. Dengan semakin efisien jalur distribusi, maka akan menguntungkan keduabelah pihak.

Demikian, dua inovasi sederhana yang bisa dilakukan untuk memperbaiki nasib petani kita.


Semriwing
Sentra Rempah

Komoditas Tanaman Rempah Obat di Jawa Barat

 












Siapa sangka Jawa Barat adalah sentra kapulaga. Kapulaga merupakan rempah multi guna yang harganya sangat menjanjikan.

Jika Anda seorang pengusaha di Jawa Barat, maka kapulaga bisa dijadikan salah satu komoditas unggulan untuk dipasarkan, baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Kapulaga di Jawa Barat tersebar, umumnya ada didaerah Jawa Barat bagian selatan, mulai dari Pangandaran sampai Ujung Kulon sangat berpotensi dikembangkan.

Kontur Jawa Barat bagian selatan yang bergunung dengan ketinggian yang variatif rupanya sangat cocok untuk budidaya kapulaga, maka inilah yang menjadikan Jawa Barat sebagai surganya penghasil kapulaga.

Komoditas berikutnya adalah jahe. Jahe merupakan rimpang paling dicari dipasar untuk kebutuhan bumbu dan obat. Ternyata Jawa Barat tanahnya sangat cocok untuk pengembangan jahe.

Urutan ketiga ditempati oleh kunyit. Kunyit secara nasional menempati posisi kedua setelah jahe sebagai rimpang yang paling banyak dicari. Ternyata Jawa Barat juga merupakan penghasil kunyit yang sangat bagus.

Yang mengherangkan, diurutan keempat ditempati mangkudu. Saya belum banyak tahu, apakah mangkudu ini potensial untuk dikembangkan secara bisnis sekala industri.

Demikian data terkait komoditas tanaman obat yang layak anda bidik sebagai sebuah peluang yang dapat dikembangkan.


Semriwing
Rempah Nusantara

Lengkuas Yang Paling Banyak Dicari Konsumen

 






Lengkuas biasanya digunakan untuk bumbu dan obat-obatan. Ada dua jenis lengkuas yang populer dipasar, yaitu lengkuas merah dan lengkuas putih.

Lengkuas putih ini ditandai dengan daging rimpangnya berwarna putih, tinggi tanaman dapat mencapai 3 meter. Jenis ini lebih banyak digunakan sebagai bumbu dapur sehari-hari.

Jenis kedua adalah lengkuas merah dengan ciri daging rimpangnya berwarna merah. Tinggi tanamannya lebih kecil, pada umumnya hanya sekitar 1-1,5 meter saja. Lengkuas merah sering dijadikan sebagai obat sejak jaman dahulu. Hal tersebut dikarenakan pada rimpangnya mengandung saponin, tanin, flavonoida dan minyak atsiri, sedangkan pada batangnya mengandung saponin, tanin dan flavonoida.

Nah, jika Anda ingin budidaya lengkuas, ada baiknya Anda menyimak hasil riset, kira-kira lengkuas mana yang paling banyak dibutuhkan oleh pasar.

Berikut ini analisanya.


1. Lengkuas Merah

Dari data pencarian, maka lengkuas merah menjadi jenis lengkuas yang paling banyak dicari. Pencarian lengkuas merah adalah dua kali lipat dibandiing dengan lengkuas putih.

Ini artinya lengkuas merah mendominasi pasar lengkuas ditingkat pencarian. Dari info ini, maka menanam lengkuas merah berpotensi besar hasilnya dapat diserap oleh pasar dengan baik.


2. Lengkuas Putih
Berikutnya adalah lengkuas putih, dimana lengkuas jenis ini menempati posisi pencarian kedua. Kenapa pencarian lengkuas putih lebih rendah, bisa jadi karena lengkuas putih hanya memiliki fungsi dominan sebagai bumbu masak, sedangkan lengkuas merah selain untuk bumbu juga untuk bahan obat-obatan.

Demikian analisa terkait budidaya lengkuas berbasiskan pada pasar yang ada selama lima tahun terakhir.


Semriwing
Sentra Rempah Kering

Jenis Kunyit Yang Paling Banyak Dicari Pasar

 






Setidaknya ada 4 jenis kunyit yang banyak dibudidayakan petani rempah Indonesia. Empat jenis tersebut diantaranya kunyit putih, kunyit kuning, kunyit hitam dan kunyit merah.

Nah, jika Anda ingin budidaya kunyit, pilih kunyit mana yang paling banyak diburu pasar dari keempat jenis varietas diatas.

Hasil riset pencarian ini bisa Anda jadikan rujukan agar tidak salah pilih pasar.


1. Kunyit Putih
Walaupun warna kunyit yang dikenal adalah warna kuning, ternyata kunyit warna putih paling banyak dicari dipasar.

Hal ini cukup mengejutkan, karena kuning adalah identik dengan warna kunyit, tetapi tingkat kebutuhan kunyit warna putih ini cukup besar dan dominan. Mirip dengan posisi jahe merah yang dominan diantara jenis jahe lainnya.


2. Kunyit Kuning
Posisi kedua ditempati oleh kunyit kuning, yang selama ini kita kenal sebagai bumbu rempah dapur yang biasa kita gunakan.

Permintaan kunyi kuning cukup stabil diposisi kedua selama 5 tahun terakhir ini, artinya posisi kunyit kuning sangat dibutuhkan pasar.


3. Kunyit Hitam
Berikutnya posisi ketiga ditempati kunyit hitam. Pencarian kunyit hitam juga relatif stabil dipasar selama 5 tahun ini dan tidak mengalami lonjakan yang signifikan.


4. Kunyit Merah
Posisi terkahir ditempati kunyit merah. Permintaanya stabil sepanjang tahun dengan komposisi permintaan pasar yang setara dengan kunyit hitam.


Dari melihat potensi pasar kunyi di Indonesia, maka memilih kunyit putih dan kuning dari sisi pasar sangat besar dan stabil. Bisa dijadikan acuan untuk budidaya berdasarkan pada kebutuhan pasar.


Semriwing
Sentra Rempah Kering

Jenis Jahe Yang Paling Banyak Dibutuhkan Orang

 


Jika anda ingin budidaya jahe, maka perlu melihat kebutuhan jahe dipasar. Setidaknya ada 3 jenis jahe yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Tiga jenis jahe tersebut adalah jahe merah, jahe gajah dan jahe emprit.

Nah, mari kita kupas tingkat kebutuhan jahe berdaarkan hasil pencarian di internet, seperti apa tingkat persaingan ketiga jahe ini.

1. Jahe Merah
Kebutuhan akan jahe merah mendominasi pencarian di internet. Jahe merah mengalami lonjakan besar pada saat pandemi datang di tahun 2020 dan masuh bertahan sampai sekarang.

Kalau melihat kebutuhan jahe merah relatif stabil kebutuhannya dibanding jahe gajah dan jahe emprit. Selalu memimpin pasar selama ini. Dengan melihat stabilitas permintaan, artinya jahe merah adalah jenis jahe yang paling banyak diburu konsumen.

2. Jahe Gajah
Jahe gajah menduduki posisi kedua dalam pencarian, namun porsinya masih kalah jauh dibandingkan dengan jahe merah. Kebutuhannya juga stabil sepanjang tahun, bisa dikatakan tidak naik dan tidak turun.

Artinya, jahe gajah tetap dibutuhkan, namun tingkat kebutuhan pasar relatif kecil sepanjang tahun.

3. Jahe Emprit
Jahe emprit adalah jahe yang bentuknya kecil namun memiliki tingkat kepedasan yang tinggi. Jahe emprit menempati posisi ketiga dengan tingkat kebutuhan yang stabil sepanjang tahun dan volume kebutuhan pasar hampir sama dengan jahe gajah.

Dari data ini, mulai dari volume kebutuhan pasar dan stabilitas, maka budidaya jahe merah sangat menjanjikan mengingat kebutuhan pasar yang sangat tinggi.


Semiriwing
Sentra Rempah Kering




Komoditas Rempah Rimpang Yang Paling Banyak Dicari

Ada banyak pertanyaan bagi petani empon-empon atau rimpang, rempah rimpang jenis apa yang paling dibutuhkan oleh pasar hari ini.

Mengetahui kebutuhan pasar memang cara ternaik bagi seorang petani rimpang agar produk yang dihasilkan benar-benar dibutuhkan oleh pasar. Tanpa mengetahui kebutuhan pasar, maka bisa jadi saat panen raya harga jatuh kedasar, karena pasar mengalami kejenuhan produk.

Saya mencoba meriset sederhana, sebenarnya rempah rimpang apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pencarian di google. Hasil analisanya adalah sebagai berikut :









Secara sekilas terlihat lonjakan besar sejak memasuki tahun 2020 lalu, artinya bahwa sejak adanya corona, maka permintaan hampir semua produk rempah rimpang mengalami lonjakan yang sangat besar.

Berikutnya lonjakan terus bertahan sampai data ini diambil pada Pebruari 2022 dan sepertinya selama ada Corona maka kebutuhan rempah rimpang akan tetap bertahan.

Berikut urutan berdasarkan data pencarian :

1. Jahe
Jahe stabil menjadi rempah yang banyak dicari sepanjang lima tahun terakhir, sepertinya jahe adalah rempah paling stabil dengan posisi teratas dan stabil permintaannya.

2. Kunyit
Kunyit adalah empon kedua yang paling banyak dicari, bersaing dengan jahe sebagai rempah utama. Posisi kebutuhan kunyit bersifat stabil sepanjang tahun seperti halnya jahe.

3. Temulawak
Temulawak menempati posisi ketiga dari tingkat kebutuhan empon-empon. Namun dalam lima tahun terkahir permintaan akan temulawak mengalami penurunan melandai walaupun menempati posisi ketiga.

4. Kencur
Permintaan berikutnya adalah kencur. Dari analisa kencur juga melandai walaupun tetap diposisi ke empat. Selain itu, kencur juga tidak melonjak tajam saat adanya panemi, artinya kencur dipandang sebagai rempah yang tidak berkorelasi dengan pandemi.

5. Lengkuas
Urutan ke lima ditempati oleh lengkuas. Lengkuas stabil posisinya diurutan kelima dan tidak juga mengalami lonjakan selama masa pandemi.

Demikian 5 hasil bumi rempah empon berdasarkan data google yang dapat Anda jadikan acuan untuk budidaya empon berdasarkan tinggi rendahnya kebutuhan empon dipasar online.


Semriwing
Sentra Rempah Kering

Semriwing Rempah Indonesia











Lama merenungkan tentang hasil bumi, akhirnya munculah ide untuk kembali membangkitkan rempah-rempah Indonesia.

Saya pikir, kalau melihat sejarah masa lalu, para kolonoal berdatangan ke Indonesia alasan terbesarnya adalah negeri nusantara ini kaya akan rempah.

Lantas, jika hari ini ada banyak rempah luar negeri yang membanjiri negeri ini, tentunya ada yang salah dalam tata kelola rempah di Indonesia.

Melihat keprihatinan ini, saya ingin mencurahkan pikiran walau mungkin tak akan berpengaruh besar terhadap keadaan yang ada, namun saya berharap ikhtiar saya ini nantinya bisa menjadi api untuk kebangkitan rempah Indonesia.

Saya memulainya dengan cara yang sederhana. Melihat potensi terdekat yang dapat saya jangkau.

Diantara potensi itu adalah rempah rimpang yang kaya diseluruh pelosok negeri ini. Ada jahe, kunyit, ada kencur ada temulawak dan sejenisnya.

Saya mencoba menanam di kebun saya rimpang itu dan mengolahnya baru kemudian menjualnya kepasaran.

Begitu ide ini muncul, dengan sangat sederhana.

Asa saya kedepan, dapat memberdayakan petani lereng gunung Palasari Bandung Utara, untuk kemudian mau menanam rimpang rempah. 

Semoga saja, niatan ini menjadi amal dihadapan Allah yang Maha Perkasa, yang dapat mengabulkan semua doa orang yang meminta.


Bandung, 3 Pebruari 2021

Semriwing
Sentra Rempah Kering